Pride.
Pentingkah itu di saat kau hampir melepaskan sesuatu?
Banyak alasan yang ada
Supaya ini, supaya itu
Namun, semua itu sama saja
Tidak seharusnya kau keras kepala.
Hanya sekian detik waktu yang ada
Untuk memutuskan
Keputusan yang simpel, namun
Apa? Kau tetap saja
Keras kepala.
Ya, memang aku ini pelupa
Memang aku ini ceroboh
Memang, tanganku ini tangan yang dapat merusak segalanya,
Namun bukan berarti dengan melepaskannya
dapat mengubah semuanya
Mungkin memang seharusnya kulebih berhati-hati
Dan pada akhirnya, sesuatu itu akan kembali,
Tapi ku tak dapat berhenti terpikir
Betapa keras kepalanya dirimu.
Ku ingin marah, melepas semua
Namun apa daya, jika ku lepas
Maka akan lebih besar yang kau lepas
Smua karna
Keras kepala
Mungkin kalian, yang membaca ini, merasa
Bahwa ku terlalu berlebihan, namun
Hanya ini yang bisa kulakukan
Tuk mencurahkan, melepas semua
Inilah yang aku rasakan.
Very Low Brightness
Just an unhappy, darker version of my blog. And life. Actually this is a private blog, but if you happen to find and currently reading this, then enjoy the bitterness. Haha. Check http://happyfiona.blogspot.com instead if you can't handle this one. Thank you.
Thursday, December 31, 2015
Keras Kepala.
Saturday, December 26, 2015
Janji.
Janji itu ucapan yang maut.
Kenapa tidak?
Dengan janji, seseorang bisa terlontar jauh tinggi ke atas langit, hingga ke awan. Wah, betapa bahagianya.
Tapi, dengan janji, juga
Sesorang dapat jatuh ke bumi, terhempas
Mengikuti hukum gravitasi yang
Kejam
Anggap saja setiap manusia punya "kantung kecewa". Lalu, muncullah sebuah janji kecil. Mungkin, bagi orang yang mengucapkannya, janji ini tidak penting. Namun ia salah. Janji ini telah masuk, masuk ke dalam kantung kecewa.
Dan, jika janji itu palsu
Jika janji itu janji yang busuk
Ia akan membusuk dalam kantung kecewa
Dan membuat kantung itu pecah
Mengeluarkan semua kekecewaan yang ada
Terasa, hingga ke seluruh tubuh
Ya, kita semua pernah berjanji
Ya, kita semua pernah melanggar janji
"Wah, maaf ya saya telat. Janjinya jam 7, sekarang udah jam 8."
Ya, kita semua pernah. Dalam keseharian yang simpel sekalipun.
Dan saat seorang melanggar janji, betul, kita harus melihat dari sudut pandangnya.
Mengapa ia melanggarnya?
Apakah karena terpaksa?
Bagaimana perasaannya?
Ya.
Namun,
Bagaimana dengan perasaanku?
Pernahkah engkau merasa, sangat kecewa
Sampai rasanya seluruh dunia ini pahit
Engkau bisa bilang ini terlalu hiperbola, aku tak peduli, namun
Inilah yang aku rasakan.